Saudaraku, Maafkan aku…

23 Aug 2011

maaf

Saudaraku…

Sebagai manusia, sama seperti manusia-manusia lain, aku lemah dan hanya dapat hidup dengan pertolongan kalian. Tanpa adanya kalian tidak juga akan bertahan diriku.Tanpa kalian, yang menanam padi, sungguh malam nanti aku tidak dapat menemukan nasi untuk dimasak. Tanpa kalian yang memanen tebu, tidak pula aku akan merasakan manisnya minuman pelepas dahagaku. Tanpa kalian, kalian yang yang rela berpeluh ria menggali tanah di pinggir-pinggir jalan, membentangkan ratusan kilometer kabel-kabel, duhai tiadalah aku dapat melihat dunia luar dengan internet seperti saat ini.

Saudaraku..

Beberapa dari kalian sering bertemu dan bersama-sama denganku. Kita bertetangga, kita satu rekan kerja, satu jama’ah dalam sholat. Engkau si penjual roti setiap pagi dan aku pembeli, engkau yang menambal roda kendaraanku tadi siang, engkau yang datang meminta tambahan rizki kerumahku, yang barusaja mengomentari statusku di facebook, yang tanpa sengaja membaca tulisan ini dan semua dari kalian, kita berteman didunia nyata, juga di dunia maya. Kita, entah sedikit atau banyak, sengaja atau tidak, pernah saling memberi, menerima, berinteraksi satu sama lain. Hanya beberapa dari kalian yang aku kenal, sebagian besar lain sama sekali tidak aku kenal. Walaupun begitu aku tahu, aku membutuhkanmu..

Saudaraku..

Dalam banyak hal aku merasa senang dan menerima bentuk-bentuk interaksi kita seperti kata-kata dan perilaku kalian. Begitu juga aku berharap, aku tidak pernah menyakiti kalian dengan kata-kata dan perilaku yang tidak kalian inginkan..

Saudaraku.. Tapi siapalah aku yang tidak terjaga dan tiada sempurna..

Pasti ada saat dimana aku tanpa sengaja membuatmu kecewa.. Tidak setiap pagi aku membeli roti, dengan sedikit kesal aku pernah menolakmu. Aku marah ketika roda kendaraan yang baru saja kau tampal ternyata tidak sempurna. Aku hanya sedikit memberi apa yang kau minta, dan aku membiarkan engkau berkomentar di statusku tanpa mau sekedar menekan tombol “like”..

Jika kau anggap itu tidak seberapa, bagaimana dengan kemarahanku yang pernah kalian terima? Dengan kata-kata pedas yang menusuk, dengan perilaku merendahkan yang mungkin pernah terlihat?

Saudaraku..

Dengan bertangkupnya kedua telapak tanganku dihadapanmu ini, kumohonkan satu kata yang akan sangat berarti untuk kelangsunganku.

Aku mohon, maafkan aku atas segala apa yang pernah kalian tidak ingin terima dariku.

Saudaraku..

Permohonon ini bukanlah urusan kecil, maafmu adalah kebutuhanku. Dosaku kepada Tuhan akan bisa kumintakan ampunan. Tapi Dia tidak akan mengampuni dosa yang kulakukan karena menyakiti kalian. Maafmu adalah kunci yang jika kau tahan akan membawaku ke siksaan yang pedih, tapi jika kau berikan, dan aku mohon berikanlah, engkau telah bermurah hati melepaskan belenggu dileherku. Sungguh Tuhan menyukai orang-orang yang memaafkan.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134).

Saudaraku..

Sebagaimana engkau tahu, kita masih akan terus bersama, bertemu dan berinteraksi di dunia ini. Mungkin akan ada kesalahan lain dariku yang akan kembali menyakitimu, membuatmu kecewa dan menerbitkan amarahmu. Sungguh jika engkau tidak ingin memberi, Tuhan pun tidak mengampuni aku.

Tapi sekali lagi, Tuhan dan Nabinya lebih menyukai orang yang memaafkan, yang membalas keburukan dengan doa dan kebaikan membalas benci dengan kesabaran dan membalas permusuhan dengan pemberian. Lihatlah sada Nabi SAW ini, saudaraku:

Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, kamu bersikap sabar kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu. (HR. Thabrani)

Karena itu, saudaraku..

Maafkan aku…



TAGS ngaBLOGburit


-

Author

Follow Me