Mereka yang Menipu Bangsa Sendiri

20 Sep 2011

musang-bulu-domba

Beberapa minggu belakangan kabar berita yang mampir ke mata-telinga banyak berhubungan dengan tipu-menipu, penipu, orang yang tertipu dan percobaan penipuan. Entah mengapa datangnya kabar berita dengan tema penipuan sambung menyambung tiada henti. Mungkin saatnya untuk berhati-hati menjalani hidup dan pergaulan dengan banyak manusia yang satu dua diantaranya mencoba mengambil keuntungan dari kita, lewat jalan yang tidak baik tentunya.

Seorang tetangga baru saja terburu-buru mentransfer uang sebesar Rp. 2,5 juta yang dipinjamnya dari tetangga yang lain. Tujuannya, nomor rekening yang baru saja diterimanya setelah menghubungi nomor telfon yang tercantum di sebuah sticker. Sticker yang didapatnya di dalam sebuah kotak wafer merk ternama, sebuah sticker “keberuntungan” yang memberi tahu dirinya memperoleh sebuah mobil baru, mobil merk ternama yang selama ini hanya menjadi mimpi dan bunga khayalan ditengah kerasnya hidup sebagai buruh penyadap karet.

Nasehat dan peringatan tidak lagi diindahkannya, semua dimentahkan dengan klimaks kegembiraan yang tiada terkira. Tidak ada lagi logika kecuali anggapan bahwa hidupnya baru saja terbalik, dari kerasnya kapal di tangan, bau busuknya getah karet yang bukan miliknya menjadi empuk dan wanginya mobil baru yang segera akan datang di halaman rumahnya. Hari ini… dia masih menunggu..

Minggu lalu, seorang blogger di blogdetik menulis pengalamannya. Nasibnya mungkin lebih baik dari tetangga diatas. Teman kita ini “hanya” kehilangan sekitar 400 ribu saja. Hilang karena baju pesanannya di sebuah toko online fiktif tidak kunjung datang, sialnya, baju tersebut adalah pesanan temannya. Kisahnya ada di sini.

Di halaman lain, ada cerita tentang wanita yang ditaksir pria bule. Singkat cerita si pria mengirimkan hadiah berupa barang-barang mewah senilai kurang lebih Rp. 800 juta. Dan segera setelah itu petugas fiktif dari bea cukai menghubungi, meminta si wanita membayar bea masuk barang-barang tersebut. Untungnya logika si wanita tidak ditutupi oleh mewahnya hadiah, dan penipuan pun gagal.

Di sudut-sudut lain, para papa dan mama palsu yang mengaku bermasalah dan berurusan dengan polisi tidak henti-hentinya menyebar sms kepada sembarang orang yang diakuinya sebagai anak untuk dimintainya pulsa supaya urusannya cepat selesai. Tidak lupa para papa dan mama palsu ini berpesan untuk tidak mencoba menghubungi nomor yang digunakan sekarang, agar “urusannya” juga selesai.

Tuhan, bagaimanapun, telah memberi kita banyak pilihan untuk bertahan dan meningkatkan derajat hidup dengan cara yang baik. Tapi banyak diantara manusia justru memilih jalan yang membuat rugi manusia lain, saudara sebangsanya sendiri.

Demikian juga masih ada sedikit kesempatan untuk memilih ketika kita dijadikan target penipuan. Sedikit fikiran jernih dan kehati-hatian mudah-mudahan dapat menghindarkan kita dari kerugian akibat ulah nakal saudara kita.

Tetapi, penipuan bukan saja menyerang sisi materi. Ada banyak penipu yang membuat korbannya tidak bisa memilih dan membuat pilhan apapun. Mereka yang harus menerima kenyataan bahwa pajak yang mereka bayarkan selama ini hanya di buat untuk memperkaya beberapa orang.

Rakyat yang tidak punya banyak pilihan ketika melihat pemimpin yang dulunya menebar janji, setelah dipilihnya ternyata hanya menyisakan memori tentang janji-janji yang tidak kunjung ditepati..

Ah.. ada banyak lagi, mereka yang menipu bangsanya sendiri..


TAGS Penipuan penipu.


-

Author

Follow Me