Walau Tanpa Alas Kaki, Dada Kami Juga Berapi

10 Nov 2011

9 November 2011. Dua hari ini pembicaraan penuh dengan kata API. Dari kemarin pagi hingga siang tadi dimana-mana di kotaku orang bicara tentang api. Kali ini bukan api yang membakar hutan-hutan karet tua di sekitar kota ini, dan kemudian menimbulkan kabut asap yang mencekik jalan pernafasan-bukan itu, karena saat ini sedang musim penghujan. Bukan juga api yang menghanguskan rumah karena ledakan tabung gas elpiji 3kg. Kali ini api kecil saja, hanya beberapa kali lipat saja besarnya dari nyala korek api penjual gorengan di pinggir lapangan itu.

Di lapangan itulah api tersebut akan datang siang ini. Kedatangannya ditungu-tunggu oleh banyak orang termasuk Bupati, para camat, Kepala-kepala dinas dan orang-orang penting lainnya di kota ini. Ada pula orang-orang yang tidak penting seperti saya yang kebagian tugas dari atasan untuk menjadi bagian tim penyambut si Api penting tadi.

Ya, api yang akan datang di kotaku siang ini bukan api sembarangan, inilah api SEAG (lebih dikenal dengan SEA GAMES) 2011 yang diambil dari sumber api Mrapen, Desa Manggar Mas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Ribuan kilo meter dari tempat kami menunggunya siang tadi, Alun-alun Kota Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, sekitar 4-5 jam perjalanan dari Ibukota Privinsi, Palembang.

Api kecil ini yang kuragukan untuk sanggup membakar semangat kami yang mulai meleleh, keluar melalui pori-pori dalam bentuk keringat yang segera mengering lagi terpapar terik matahari. Entah ada apa dengan hari ini, matahari tampaknya tak ingin terhalang awan musim penghujan, seolah ikut menyambut kedatangan si Api. Keluhan-keluhan mulai terdengar di kiri dan dari kanan. Sudah hampir dua jam kami menunggu di bawah terik. Kami bukan termasuk mereka yang berseragam olahraga berwarna merah putih, yang duduk dibawah nyamannya tenda berkarpet merah. Dan punggung kami tidak pula bertuliskan INDONESIA, sebuah kata yang sangat akrab namun seperti mengasingkan sebagian kami dari yang lain.

Setelah nyaris dua jam terpanggang terik, protokol akhirnya meminta semua yang hadir untuk bersiap karena rombongan pembawa api sebentar lagi akan tiba di lokasi dimana kami menunggu. Para wanita cantik pembawa spanduk mulai merentangkan spanduk-spanduk mereka, drumband pun mulai memainkan lagu-lagu penuh semangat.

Saat itulah mata saya menangkap sebuah pemandangan yang mungkin biasa bagi banyak orang, tapi tidak bagi saya. Dua orang anak kecil berumur 7 dan 10 tahunan duduk di atas rumput lapangan tidak jauh dari tenda para pejabat. Salah satunya mengenakan kaos bertema SEAG 2011 di punggungnya. Alas kaki mereka lepaskan, dijadikan alas duduk.

teman1

photo1207

Mereka terlihat begitu khusuk menikmati setiap momen yang ada, terutama permainan drum band di tengah lapangan. Sementara di tengah lapangan, di belakang para pemain drumband, anak-anak seumuran mereka berseragam sekolah lengkap berbaris sembari memegang bendera kecil ditangan. Momen yang juga dinikmati dengan sungguh-sungguh, tanpa harus bertanya mengapa mereka berada di pinggir sementara teman-teman lain ada di tegah lapangan. Berdua mereka semakin larut, sembari mengobrol dan menikmati jajanan dan minuman yang mereka beli sendiri, tidak ada pembagian minum gratis bagi mereka berdua ini.

Tapi tidak demikian bagi keduanya. Hari ini api SEAG 2011 adalah yang terpenting, mereka harus menunggunya, mengumumkan kegembiraan dengan memakai kaos bertema SEAG 2011 dipunggung, dan duduk sedekat mungkin dengan lintasan yang akan dilalui para pembawa api. Tidak perduli dengan terik, tidak juga dengan alas kaki atau orang-orang berseragam yang lalu lalang di sekitar mereka.

Ada api kecil mulai membakar dadaku.

Tak lama, iring-iringan pembawa api mulai terlihat, derap langkah mereka diiringi lagu mars yang mereka nyanyikan membuat hati merasa terharu. Dua anak tanpa alas kaki melonjak berdiri mendekati rombongan pembawa api. Api di dada yang tadinya ku sangsikan untuk tetap menyala, kini rasanya membakar panas, membara, membuat gejolak aneh yang mengajak mata untuk berkaca-kaca.

api

Ah.. kami bukan orang-orang penting yang punya seragam dengan punggung bertuliskan INDONESIA. Tapi Indonesia adalah harapan di hati untuk menjadi kebanggan kami. Kami tidak memegang bendera untuk menyambut api, tapi bendera api kini berkibar dengan deru merah putihnya di dada kami. Kami bukan juga orang-orang dengan alas kaki, tapi tanpa alas kaki pun kami bisa berdoa untuk bumi Indonesia yang kami pijak ini..

Berjuanglah saudaraku.. Jika saja api akan padam tersiram hujan, api-api di dada kami semoga menjadi penyulut semangat kalian.


TAGS


-

Author

Follow Me