Cuti Bersama, Ngawur Bersama

18 May 2012

e7e3b092f6e9b41813b18c67ecae06e5_macet

Di TV lagi seru-serunya berita tentang cuti bersama. Cuti bersama yang arti sebenarnya adalah meliburkan diri secara serentak walaupun kalender tidak menunjukkan tanggal merah alias seharusnya ini hari kerja.

Persetan dengan hari kerja, cuti ya cuti, libur!

Orang-orang butuh liburan dan hiburan. Maka berita selanjutnya adalah tentang kemacetan di jalan-jalan yang menjadi jalur menuju tempat-tempat liburan. Wajar, keputusan cuti bersama ini membuat akhir pekan menjadi panjang. Yang biasanya hanya libur di hari Sabtu-Minggu kini menjadi 4 hari, terhitung Kamis hingga Minggu. Maka jadilah ini menjadi semacam liburan bersama bagi mereka yang cuti bersama.

Sayangnya..

Entah bagaimana ceritanya ini Indonesia. Yang dimaksud cuti bersama ini ternyata tidak benar-benar bersama. Yang menerima cuti bersama ini ternyata cuma PNS. Jadi judulnya ini adalah Cuti Bersama (Khususon) PNS. Anak-anak sekolah tidak libur, kantor-kantor non pemerintah (kantor yang gak ada PNS-nya) juga tidak libur. Walhasil para guru yang walaupun PNS seharusnya masih harus masuk bersama ke sekolah untuk mengajar karena siswa-siswa sekolah tidak libur bersama.

Jadi seharusnya itu kepadatan kendaraan di jalur-jalur liburan tidak terjadi kecuali dalam kendaraan tersebut isinya hanya PNS, tidak ada istrinya yang harus bekerja di instansi non pemerintah atau anak-anaknya yang harus sekolah hari ini dan besok. PNS yang baik tentu tidak akan mengajak istri dan anak-anaknya untuk bolos bersama lalu membawa mereka liburan seenak hati, kan? Apakah saya mau menulis kalau mereka-mereka yang berlibur bersama keluarga dengan mengajak istri dan anak untuk bolos itu adalah PNS yang tidak baik? Sebenernya itu yang mau saya tulis!

Kalau saja saya sedikit mau berfikir, ini cuti bersama sepertinya agak ngawur-ngawur sedikit. Cuti bersama ini hanya bisa dinikmati oleh keluarga yang isinya PNS semua atau yang anggota keluarganya tidak ada kewajiban masuk kerja-sekolah hari ini dan sabtu besok. Dan keluarga dengan keadaan ideal untuk cuti bersama tersebut bisa dikatakan hanya sedikit. Suami PNS, istri PNS atau ibu rumah tangga biasa atau pekerja yang tidak terikat waktu, belum punya anak atau punya tetapi tidak sedang sekolah. Ideal banget kan, buat liburan bersama?

Lalu bagaimana bisa jalan menuju tempat liburan dan tempat liburan itu bisa sepadat itu?

Itu artinya pemerintah sudah berhasil membuat sebagian rakyatnya untuk ngawur bersama, bolos bersama dan bohong bersama. Ya toh??

Lha, bagaimana tidak. Mereka yang mau liburan sekeluarga harus membuat alasan supaya anak yang sekolah bisa dipaksa libur. Tidak mungkin alasannya liburan, paling juga ditulis urusan keluarga. Tidak percaya? Silahkan lihat tingkat kehadiran siswa di sekolah-sekolah hari ini, khususnya di daerah-daerah yang haus liburan.

Pemerintah juga berhasil membuat beberapa pasangan ribut.

Lha, ini istri saya yang kena putusan cuti bersama mengajak lburan, sementara saya harus masuk sekolah. Tidak mungkin saya tinggalkan, saya bukan PNS dan saya adalah Si Bukan PNS yang baik. Haha..

Selain itu, alangkah tidak efektifnya jika urusan-urusan yang berkenaan dengan pelayanan publik yang mendesak ternyata harus menunggu hingga senin.

Lain kali jika memang ini judulnya cuti bersama, mbok ya beneran bersama. Judul yang tidak lengkap kadang membuat kita bingung, membuat kita terpaksa bohong, bolos dan ribut dengan pasangan, wahai pemerintah..


TAGS Cuti bersama


-

Author

Follow Me