Saat Saya Ingin Memukuli PLN

11 Oct 2012

Ya, pernah ada saat dimana saya membayangkan seandainya PLN itu berwujud benda atau manusia yang ada di dekat saya maka saat itu juga akan saya banting, hancurkan atau pukuli sampai klenger. Ini bukan karena saya jumawa, bukan karena jagoan. Daftar kejahatan yang dilakukan PLN kepada saya, keluarga dan teman-teman saya sudah cukup banyak dan panjang. Jadi rasanya-rasanya pantas-pantas saja PLN saya pukuli.

Sayangnya PLN itu bukan benda dan bukan pula satu manusia, tapi satu badan usaha yang di tangannya kekuasaan untuk menerangi atau menggelapkan lampu-lampu kami dipegang. Jadi mau tidak mau, terima tidak terima, nikmat tidak nikmat nyaris tidak ada pilihan selain PLN.  Kalau diibaratkan lagu maka ‘kamulah satu-satunya’ dari Dewa19.

Tapi lain lagu lain pula PLN. Kalau lirik lagunya mengatakan ‘kamulah satu-satunya, yang ternyata mengerti aku’ maka kejadiannya sangat berbeda. PLN sebagai satu-satunya badan usaha penyedia listrik lebih sering tidak mengerti aku. Maka inilah beberapa daftar kejahatan yang sudah dilakukan PLN selama ini kepada kami.

Pertama, apalagi kalau bukan urusan mati lampu yang semena-mena, lebih lebih di musim penghujan yang mulai datang seperti ini. Tanpa pemberitahuan tau-tau listrik padam dan bisa berulang-ulang. Kejadian selanjutnya nyaris seragam, segala sumpah serapah sampai menyerempet ke arah kutukan kami keluarkan. Maka tweet dan status saat itu pun bernada seragam untuk kami yang berdekatan dan terkena penggelapan semena-mena ini. Apalagi kalau malam hari, yang sedang banyak tugas di komputer, yang baru akan membuat kue, yang sedang khusuk di kamar mandi dan lain-lain serempak memposting keluhan bercampur amarah. Via mobile tentunya.

Sayapun kadang ikut-ikutan meramaikan walau sedikit malu-malu. Selebihnya ya itu tadi, menggerutu sambil berniat membanting dan memukuli PLN. Wajar, kan? Lha, PLN sudah membuat waktu dan energi saya terbuang. Gelap itu tidak enak. Lebih-lebih  saya harus membayar apa yang saya tidak bisa gunakan. Ya, koneksi internet ini, pakai tidak pakai, bayarlah saya. Tapi bagaimana mau menggunakan jika tidak ada aliran listrik? Maka saya benar-benar ingin memukuli PLN saat itu.

Belum lagi tarif pemasangan baru yang teramat mahal. Ketika menempati rumah baru, saya harus mengeluarkan 3,5 juta untuk biaya pemasangan thok, tanpa instalasi. Eits, jangan bilang kalau yang memasang ini calo, lho. Orangnya ada didalam kantor PLN. Ketika saya ditanya ada perlu apa, semua orang langsung menunjuk si mister setelah saya bilang saya mau pasang listrik. Dan untuk instalasi, saya akhirnya meminta jasa teman saya. Untuk kabel dan lampu-lampu, saklar dan lain-lain plus upah pemasangan saya menghabiskan sekitar 1,5 juta lagi. Bukan jumlah yang sedikit untuk pasangan muda seperti saya. Itu sekitar 4 tahunan yang lalu.

PLN juga tidak menyediakan tempat untuk bertanya, nomor 123 sudah lama tidak bisa dihubungi di tempat saya.

Selanjutnya angka tagihan yang ngawur sengawur-ngawurnya. Disini kami membayar tagihan listrik secara kolektif. Kebetulan ada semacam kelompok tani yang mengkoordinir teknis pembayaran tagihan listrik warga. Kami tidak perlu repot ke kantor jaga, cukup menunggu dirumah dan sediakan uang, selesai. Nah, biasanya saat si petugas datang kerumah, saya memeriksa tagihan tetangga-tetangga satu RT saya yang jumlahnya sekitar 40an kk. Anda pernah melihat tagihan listrik satu RT dengan jumlah yang seragam? Saya pernah, bahkan tiga RT. Nah jika anda belum pernah lihatlah foto dibawah ini.


Mungkin tulisannya kurang jelas, tapi baiklah saya beritahu kalau angka-angka rupiah di struk tagihan itu seragam, Rp. 8000 atau Rp. 22.000

Seringya kami harus membayar dalam jumlah yang lebih kecil dari yang seharusnya. Entahlah, mungkin karena kesibukan saya saya nyaris tidak pernah bertemu petugas pencatat meteran listrik.

Sampai suatu bulan kemarin

PLN dikabarkan melakukan pembersihan. Kami yang sudah was-was akan membayar tagihan dengan jumlah yang sangat besar akhirnya shock. Bayangkan, jika rata-rata tagihan saya hanya puluhan hingga ratusan ribu per bulan, bulan depan jumlah tagihan saya diperkirakan sekitar 1,3 juta. Tetangga-tetangga lain yang mempunyai peralatan listrik lebih banyak bahkan mencapai belasan juta.

Kami sadar ini memang hutang kami, tapi tentu ini bukan hanya kesalahan kami semata. PLN harusnya bisa mengontrol angka-angka rumit yang kami tidak mengerti, menyesuaikan jumlah watt yang sudah terpakai dengan jumlah uang yang masuk. Kami sadar kami menghutang banyak, tapi PLN lah yang membuat kami menghutang.

Akhirnya hari itu saya mendatangi kantor PLN. Saya yakin, dengan diserukannya Good Corporate Governance (GCG) dan anti korupsi dalam penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat, saya akan mendapat sambutan baik. Dan ini saya pikir juga sebagai kesempatan menambah data untuk tulisan di blog saya nanti, dari pada saya mencari bahan lain lebih baik saya bagi saja apa yang rasa, alami dan sekaligus harapkan untuk BUMN satu ini.

Saya diterima dengan ramah oleh salah seorang karyawan yang sepertinya memang bertugas menghadapi keluhan pelanggan akhir-akhir ini. Nazarudin namanya.

Jadi pangkal permasalahan semua ini adalah rekanan PLN WS2JB (Wilayah Sumatera Selatan Jambi dan Bengkulu) yaitu PT. Way Seputih sebagai penyedia jasa pencatatan meteran listrik yang tidak bekerja sebagai mana mestinya. Sederhananya para pencatat listrik ini tidak diawasi dan main tembak, tidak turun ke lapangan bahkan melakukan pencatatan di atas meja kerja.

Masih menurut Pak Nazarudin, saat ini PLN telah memutus kontrak PT. Way Seputih dan menggantinya dengan PT Graha Baral Lestari. Persis seperti berita yang saya baca ini. Tapi kemudian beliau melanjutkan sambil sedikit berbisik “Tapi saya lihat orang-orangnya ya masih yang itu-itu juga”.

Sepertinya dia membaca kekagetan saya dan menjelaskan lagi bahwa nantinya cara kerja mereka akan diubah dan diawasi, semua harus berdasarkan bukti, rencananya para petugas pencatat akan dilenkapi kamera HP untuk mengambil foto angka-angka di meteran listrik pelanggan. Syukurlah

Selanjutnya tentang tagihan yang membengkak, PLN akan mengusahakan agar masyarakat tidak membayar terlalu berat, kemungkinan dengan sistem cicilan hutang. Tagihan bulanan tetap dibayar, ditambah dengan cicilan hutang tagihan sesuai dengan kesanggupan pelanggan apakah 3, 4 atau 5 kali cicilan. Sayangnya ini belum saya konfirmasi ulang, karena menurut beliau saat itu keputusan belum final.

Sekalian saya tanya-tanya tentang mati lampu dan nomor 123 yang tidak bisa dihubungi. Menurutnya, tidak akan ada pemadaman jika tidak terjadi masalah di lapangan. Biasanya ada perbaikan atau perawatan gardu, tapi jika musim hujan memang masalah sedikit bertambah karena seringnya kabel tertimpa pohon atau terjadi masalah di gardu-gardu listrik akibat kelembaban dan air. Percayalah, PLN tidak ingin mengecewakan pelanggan, setiap pemadaman pasti beralasan.

Sedangkan tentang nomor 123, menurutnya di kantor ini memang sedang bermasalah, tapi pelanggan masih dapat menghubungi nomor piket jaga. Saya segera mencatat nomor tersebut di HP saya.

Harapan tentu ada, paling tidak saya sudah bertanya langsung dan mulai mengerti masalahnya dimana. Jadi asal ada kumpul-kumpul bareng tetangga yang umumnya para petani karet yang jauh dari berita, saya bisa menjelaskan masalah ini sesuai dengan yang saya dengar langsung dan apa yang saya baca dari PLN. Karena masyarakat hanya tau bahwa listrik harus hidup.

Kedepan, saya pribadi tentu berharap dengan semakin bersihnya PLN,  dimulainya proyek-proyek pembangkit mulut tambang dan pengawasan kerja yang baik terhadap rekanan, plus kemampuan PLN untuk mensosialisasikan banyak hal ke masyarakat, membuat keluhan terhadap PLN semakin berkurang. Tarif dasar litrik tak apa naik, tentu pelayanan juga yang ujungnya harus meningkat.

Saya tidak jadi ingin membanting dan memukuli PLN.


TAGS


-

Author

Follow Me