The End of The World

22 Nov 2012

Ilustrasi dari Lukevi

Ilustrasi dari Lukevi

Salah satu perkembangan teknologi yang paling mencengangkan menurut saya adalah di bidang Teknologi Informasi. Kita sedang bicara tentang sebuah teknologi yang membuat manusia dengan mudahnya terhubung ke manusia lain, bertukar ide dan informasi tentang apapun, mempublikasikan banyak hal sebagai salah satu cara membuktikan eksistensi dirinya, dan lain-lain. Seiring berkembangnya hardware-software yang semakin mutakhir, ada banyak cara dan gaya hidup manusia yang perlahan berubah mengikuti perkembangan teknologi di bidang ini.

Sekitar satu dekade ke balakang, kita sulit membayangkan bagaimana manusia bisa mempunyai sebuah alat yang dapat dibawa kemana-mana, digunakan untuk berkomunikasi dengan siapapun di belahan dunia manapun, mengakses informasi tanpa batas, mendukung pekerjaan, sebagai alat dokumentasi dan tentu saja hiburan sekaligus.

Dalam tulisan ini, mari kita persempit bahasan sebatas salah satu sistem yang membuat hubungan ajaib ini terjadi, INTERNET. Ini adalah hasil pengamatan sehari-hari tentang bagaimana cara siswa-siswi di sekitar saya berinteraksi dengan salah satu porduk teknologi yang satu ini.

Mari kita mulai dengan beberapa cerita di masa kegelapan teknologi yang banyak dialami orang-orang, termasuk saya.

Pernah saya ditugaskan untuk menulis resensi cerpen. Saya memilih meresensikan Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis yang terkenal itu. Sayangnya saya lupa dimana saya pernah membaca cerpen tersebut. Bayangkan berapa lama saya harus menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah, mengaduk tumpukan buku yang hanya bisa saya lakukan saat jam istirahat. Alternatif lain, saya pergi ke toko buku. Ini bukan pilihan bagus. Selain mengorbankan uang jajan, tidak semua pelayan toko buku tau buku apa saja yang mereka jual, apalagi di kota kecil saya waktu itu cuma ada 2 toko buku, kecil.

Suatu hari guru kesenian saya di SMP menyodorkan The End Of The World Sebagai lagu wajib ujian seni suara. Alangkah repotnya beliau menuliskan lirik lagu yang salah satunya dinyanyikan The Carpenters tersebut di papan tulis, untuk kemudian dia nyanyikan dan kami mengikutinya bersama-sama, ditambah suara-suara aneh dari beberapa teman yang terbata-bata membaca bait-bait dalam Bahasa Inggris. Padahal lagunya hanya terdiri dari empat bait saja. Salah satu kejadian lucu waktu itu, beberapa hari sebelum ujian dimulai, salah seorang teman meminta saya menyanyikan lagu tersebut sepotong demi sepotong. Kemudian dan dia mengkonversikan suara saya dalam bentuk teks untuk dia hafalkan; way das de san, go on saining.. way das de si, ras tu soor..

Salah satu kerabat pernah divonis mengidap hepatitis B. Yang kami dengar kemudian hanya tidak boleh makan ini, tidak boleh minum itu, jangan ini, harus begitu. Saya didera rasa ingin tau yang amat sangat sebenarnya penyakit apa ini, apa penyebabnya, menular atau tidak, bagaimana penanganannya dan lain-lain. Kasusnya kembali sama seperti mencari bahan resensi tadi. Demikian seterusnya dan teramat sering berulang. Mentok dalam mencari informasi adalah hal biasa di jaman itu.

Andai saat itu teknologinya seperti sekarang, tentu saya tidak perlu menghabiskan waktu istirahat saya atau mengorbankan uang jajan saya. Saya bisa download cerpen tersebut sekaligus membaca resensi-resensi yang dibuat orang lain sebagai pembanding. Guru saya juga tidak akan kehabisan suara dan frustasi di depan kelas, lagu dan liriknya dengan mudahnya di lihat di YouTube. Teman saya tersebut tentu juga dapat mengatasi kesulitannya membaca teks bahasa inggris dengan melihat video berulang-ulang. Dan ini, kata Hepatitis B yang saya ketikkan di search engine menghasilkan 36.000.000 (tiga puluh enam juta) hasil dalam waktu 0,23 (nol koma dua puluh tiga) detik saja. What a wonderfull life!

Tapi saya miris ketika melihat cara pelajar di lingkungan keseharian saya berinteraksi dengan internet. Yang saya lihat dan amati, penggunaan produk teknologi bernama internet bagi mereka-mereka ini lebih kepada Fun and Play, bersenang-senang dan bermain. Jarang saya melihat ada yang dengan serius membaca dan mencoba memahami sebuah topik yang disajikan di salah satu halaman. Bebaskan mereka barang 5-10 menit, maka alamat-alamat yang dituju tidak jauh-jauh dari facebook atau YouTube, sebagian akan melihat-lihat katalog pakaian atau sepatu, aksesoris atau koleksi-koleksi modifikasi otomotif, mungkin sembari berkhayal untuk memilikinya. Itu di sekolah. Dan sudah tidak terhitung siswa yang ketahuan membolos dengan menghabiskan puluhan hingga ratusan ribu untuk bermain game online. Orang tua yang marah karena uang yang diamanahkan untuk membayar biaya sekolah, yang dikumpulkan dengan kerja keras, lenyap dalam sekejap di warnet-warnet.

Entah karena terlahir di era yang serba mudah, atau karena kegagalan penanaman kesadaran yang dilakukan para orang tua dan guru atau juga karena pengaruh buruk dari teman pergaulan dan internet itu sendiri, sehingga pelajar kita menganggap enteng dan tidak hirau dengan sisi keilmuan yang tersebar di jagat maya.

Bukan tanpa alasan jika saya prihatin, katakanlah juga kecewa. Kadang saya memancing mereka untuk berdiskusi dengan topik-topik sederhana, menanyakan satu dua hal atau kejadian yang juga sangat umum dan sederhana. Sayangnya, tidak banyak dari mereka yang interest, tidak mengerti apa yang akan mereka tulis atau katakan. Hali ini juga berdampak langsung dengan kepercayaan diri mereka saat harus bicara di depan banyak orang.

Teknologi semakin maju, memunculkan perangkat-perangkat mutakhir yang semakin mudah untuk dimengerti, semakin multi fungsi, semakin cepat dan tentu saja semakin cerdas. Tetapi semaju apapun teknologi yang dapat kita jangkau di sekitar kita, jika tidak dimanfaatkan dengan optimal hanya akan menjadi sumberdaya yang tak terolah, sia-sia. Membandingkan dengan beberapa cerita yang saya alami di atas, solusinya menjadi sangat mudah dan sederhana ketika dipertemukan dengan teknologi.

Sebagai pendidik, sering saya mengajak mereka secara langsung maupun tidak langsung untuk melebarkan sayap di internet. Bukan hanya mencari kesenangan tapi juga menambah ilmu. Dari sekedar meminta mencari definisi-definisi, membandingkan, melempar topik-topik sederhana di grup sekolah, menyedikan beberapa hari untuk membuat blog bersama hingga memberi tugas yang mau tidak mau membuat mereka harus terhubung dengan internet.

Tulisan ini juga adalah salah satu bentuk upaya penyadaran saya kepada mereka yang sebenarnya akan saya posting di web sekolah, jadi kesannya seperti meloncat sana-sini antara berbicara dengan siswa saya dan pembaca blog saya secara umum.

Untuk yang saya sebutkan terakhir, marilah melihat ini sebagai masalah yang membutuhkan banyak saran sehingga saya dan teman-teman lain bisa melakukan cara-cara yang lebih variatif dan menyenangkan untuk mendorong siswa-siswi saya menggunakan internet dengan lebih optimal, dan saya ucapkan terimakasih.
:-)


TAGS


-

Author

Follow Me