Ketika Preman Berseragam Anarkis

7 Mar 2013

Andai saja hari ini ada kasus kejahatan yang terjadi di sekitar kota Baturaja tentu pelakunya bisa lolos tanpa perlu takut ditangkap aparat kepolisian. Demikian juga masyarakat sekitar kota Baturaja mulai hari ini mungkin akan kesulitan membuat laporang pengaduan dan atau urusan lain di kepolisian Baturaja. Apa pasal? Karena saat ini Polres Baturaja tidak lagi memiliki kantor. Kantor mereka baru saja terbakar pagi ini.

22d2bb5fd4280bd700432046358f6efe_bakar1

Kebakaran ini bukanlah kebakaran biasa dan tidak disengaja. Ratusan tentara dari satuan-satuan yang berada di wilayah Kabupaten Ogan Kemering Ulu (OKU) dan OKU Timur, Sumatera Selatan dengan menaiki 5 truk dan puluhan sepeda motor menyerbu Polres Baturaja dan melakukan tindakan anarkisme. Kendaraan-kendaraan yang terpakir dirusak, tidak sampai di situ aksi mereka lanjutkan dengan membakar habis Kantor Polres Baturaja tersebut.

5f43ab033e4613ba5650faab22dde916_2013-03-07-101200

Pemicu kejadian ini adalah peristiwa beberapa bulan yang lalu. Saat itu seorang tentara dari stuan ARMED Martapura OKU Timur melintas di depan pos penjagaan polisi dan meneriakan kata-kata ejekan ke arah petugas polisi yang sedang berjaga. Kesal karena merasa diejek, beberapa anggota polisi tersebut melakukan pengejaran. Pengejaran berakhir setelah si tentara tewas dengan beberapa luka tusuk dan luka tembak. Tragis.

Proses hukum, selanjutnya tentu berjalan. Tapi Sejak dari kejadian itu antara tentara dan polisi di lingkungan kabupaten OKU dan OKU timur seperti terjadi perang dingin dengan diikuti letupan-letupan kecil.

Puncaknya adalah hari ini.Ketika masyarakat tengah beraktivitas seperti biasa, tiba-tiba ratusan personil tentara menyerbu kantor polisi. Tanpa menunggu lama, api sudah berkobar. Kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar Polres Baturaja yang memang letaknya di pasar pun terhenti. Siapa yang dirugikan?

Tidak cukup sampai di situ, para preman berseragam tentara ini melanjutkan anarkisme mereka ke Martapura yang jaraknya puluhan kilometer. Saat posting ini ditulis, Polres Martapura sedang terbakar.

Tepat jam 10 tadi saya menyempatkan diri untuk menuju lokasi pembakaran yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kerja. Kondisinya sungguh mengenaskan, hampir seluruh bangunan termasuk mushalla terbakar, kendaraan-kendaraan yang hancur dan masyarakat yang menyemut untuk menonton hasil dari anarkisme berseragam yang baru saja terjadi ini.

Sungguh miris menyaksikan bagaimana para aparat yang seharusnya melindungi masyarakat dan mengawal hukum kini bertindak tak ubahnya gerombolan preman yang mengamuk. Bedanya kali ini mereka datang berseragam tentara.

Di sisi lain negara ini, ada kelompok-kelompok bersenjata yang menjadikan aparat sebagai target pembunuhan, meresahkan masyarakat dan mengancam kedaulatan NKRI. Lalu pada siapa masyarakat akan berharap perlindungan jika mental aparat tak ubahnya seperti preman?

Secara pribadi saya termasuk anggota masyarakat yang kecewa ketika mengetahui pajak yang rakyat bayarkan untuk membiayai dan memfasilitasi aparat hanya berujung kepada tindakan anarkis, pembakaran dan pengrusakan. Sia-sia..

Setelah ini kami hanya bisa berharap. Bagaimanapun tindakan anarkisme, pembakaran, pengrusakan apapun alasannya dan siapapun pelakunya sudah seharusnya dihadapkan kepada hukum. Aparat tidak seharusnya memberi teladan buruk kepada masyarakat dalam menyikapi kasus hukum. Akan memunculkan tanda tanya besar seandainya setelah kejadian ini tidak ada dari preman-preman berseragam tersebut yang diberi sangsi.


TAGS


-

Author

Follow Me