Ketika Zakat Menjadi Mudharat

24 Jul 2013

Akhir puasa masih jauh lagi, tapi tidak ada salahnya mulai bersiap-siap untuk mengeluarkan zakat fitrah. Zakat yang wajib dan menjadi penyempurna ibadah puasa, diberikan oleh mereka yang mempunyai kelebihan kepada mereka yang kekurangan dengan deadline sebelum sholat idul fitri.

“Barang siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shalat ied maka termasuk zakat fitrah yang diterima; dan barang siapa yang membayarnya sesudah shalat ied maka termasuk sedekah biasa (bukan lagi dianggap zakat fitrah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ditilik sekilas, pada proses pemberian zakat ini (zakat apapun sebenarnya, selain zakat fitrah) ada banyak manfaat yang bisa dirasakan baik oleh si pemberi, si penerima maupun oleh masyarakat secara umum.

Bagi si pemberi, zakat akan meningkatkan kesadaran, kepedulian terhadap sesama, membuat lebih rendah hati dan tentu mensucikan diri, berpahala dan meghapus dosa.

Bagi si penerima, zakat dapat menumbuhkan kesadaran bahwa mereka diperdulikan, tidak diabaikan, sehingga ada tenggang rasa, tidak mudah terprovokasi, merasa diayomi. Juga sebagai bentuk memperingan biaya nafkah karena zakat umumnya berbentuk bahan makanan atau uang.

Bagi masyarakat secara keseluruhan, zakat adalah salah satu sarana untuk menjaga ketentraman, mengukuhkan silaturahmi dan kerukunan sehingga secara tidak langsung akan menciptakan kehidupan yang tenang dan damai tanpa si kaya menghardik yang papa atau si papa yang mencuri milik yang kaya.

Sudah menjadi kewajiban bagi siapapun yang merasa mampu untuk mengeluarkan zakat. Entah itu zakat fitrah atau zakat mal. Tapi dengan prosedur dan pengelolaan pemberian zakat yang salah, maka zakat bisa jadi tidak membawa manfaat melainkan membawa mudharat.

Kita tidak akan membicarakan bagaimana pengelolaan zakat ketika sudah terkumpul di badan amil zakat, walaupun kemungkinan penyelewengan itu ada. Mari sekedar mencermati bagaimana cara segelintir orang kaya memberikan zakat dengan membuat antrian panjang, desak-desakan, saling dorong dan saling injak antar calon penerima zakat.

76bcbc2a0b0fdd78fefaccd244e56ae7_antri-zakat

Ilustrasi Pengantri Zakat (inet)

Miris rasanya melihat kaum dhuafa yang mengantri dengan cara seperti itu. Belum lagi di antara mereka kadang ada wanita-wanita berumur, pria-pria renta dan juga balita. Kadang harus menjemur diri dibawah terik matahari dalam waktu yang cukup lama, mandi keringat, berdesakan, jatuh, pingsan, terinjak hingga membahayakan nyawa mereka demi uang atau makanan yang nilainya tidak seberapa dibanding hidup mereka sendiri.

Alangkah indahnya jika si kaya berusaha sedikit saja lebih mengerti dan menghargai, entah waktu, entah kemanusiaan atau kehidupan itu sendiri dari calon penerima zakat tersebut. Bisa saja disiasati dengan, misalnya, menyisihkan sebagian uang yang akan dizakatkan untuk digunakan membayar beberapa orang yang bisa mengantar zakat tersebut ke rumah-rumah.

Atau bisa juga dengan menjadwal pembagian zakat untuk masing-masing daerah. Bisa beradasarkan kecamatan, kelurahan, RT/RW dan sebagainya.

Dengan cara ini si kaya tidak akan merasa terlalu jumawa dan para dhuafa juga merasa bahwa hidup mereka, nyawa mereka, waktu dan kesehatan mereka lebih dihargai. Dan tentu saja timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan bisa dihindari.

Tragedi tewasnya 21 orang di Pasuruan tahun 2008 lalu rasanya masih mengiris hati saat dibaca ulang. Sayangnya sampai saat ini, cara pembagian zakat dengan mengumpulkan ribuan kaum dhuafa di tempat pemberi zakat masih saja ada dilakukan.


TAGS ngaBLOGburit


-

Author

Follow Me